Jumat, 14 Februari 2014

Fakta dan Hal Unik Politik Dalam Negeri,Bongkar atau Diamkan?



Pernah mendengar kisah lama para pemimpin negeri diujung tanduk kita?
Mungkin ada yang pernah merasa penasaran atau bertanya-tanya, kenapa dengan pasangan pemimpin ini dan itu yang berpisah pada akhir masa jabatan. Dan “sahabat lama” yang berpisah itupun kembali mengikuti sayembara untuk berada di puncak tertinggi kuasa negeri.
Kenapa?
Para pemimpin negeri kita tercinta ini sepertinya sudah dilanda kekalutan. Kekalutan atas diri sendiridan desakan dari kaum hedonis teratas negeri. Buktinya, dalam skala dekade puluhan tahun negara yang kita diami ini tidak pernah melahirkan kemajuan yang berarti dan signifikan. Setelah itu, dalam cakupan lima tahunan para pengusaha, pengamat politisi terkenal, atau orang-orang yang selama ini berada dibalik tabir hitam mengusung dan menyanjungkan beberapa nama calon pemimpin negara. Dibalik kerasnya dan kemunafikkan permainan politik dalam negeri, saya hanya ingin mengusung fakta dan hal unik yang melanda negeri. Untuk lebih jelasnya, monggo dibaca:

1.     Kultural

Ada apa sih dengan kultural kita?

Ehmm, katanya negeri kita satu bhineka tunggal ika, tapi mengapa harus ada pembahasan kultural disini? Kenapa saya terkesan rasis?.
Bukan, sebenarnya bukan rasis ataupun membanding-bandingkan budaya satu dengan yang lain ataupun mengungkit-ungkit kejelekan dan kebaikan budaya lainnya.
Saya menyebutkan kultural sebagai tolak ukur watak yang akan mempengaruhi seseorang dalam kecepatan, dan penimbangan dalam pengambilan keputusan. Mengambil keputusan sangat penting bagi seorang pemimpin,karena pada keputusan itulah negara kita bergantung. Akan lebih baik atau lebih burukkah nasib kita jika mematuhi keputusan tersebut. Jadi, mengusung beberapa teori psikologi tentang empat watak manusia yang melankolis,koleris,sanguinis dan pragmatis ataupun gabungan dua diantara empat watak tersebut.Saya menyimpulkan bahwa ada keterkaitan antara watak seseorang yang didapatkan dari kultur lingkungan dimana dia tinggal dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.
Sebagai contoh dalam kasus presiden kita yang sekarang menjabat, bapak Susilo Bambang Yudhoyono.

Pada tahun 2004 silam, ia terpilih memimpin negeri ini dengan wakilnya yaitu bapak Jusuf Kala. Yang pertama kali terlintas dibenak saya adalah bahwa kompilasi duet antara kedua orang ini menarik.
Karena,bapak SBY sebagai “tiang jawi asli” (orang jawa asli,red.) yaitu suku dengan keramah-tamahan,lilo legowo(berlapang dada),sikap penerimaan,serta berhati-hati dalam bertindak dan berpikir berulang-ulang dalam pengambilan keputusan untuk pemecahan masalah.
Dan satunya bapak JK sebagai orang makassar yang terkenal dengan sikap ceplas-ceplos, cepat merespons,berani mengambil resiko,dan tidak terlalu sering berulang-ulang dan berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk pemecahan masalah.
Nah, dapat dimengerti disini jika saya menjabarkan bahwa kedua karakter yang dipasangkan diatas merupakan gabungan budaya yang unik. SBY dengan segala ketenangannya menyikapi suatu masalah merupakan pengerem bagi JK yang notabene selalu tampil atraktif dan cepat dalam pengambilan keputusan. Jadi ada yang menjadi kompor untuk memasifkan kegiatan diranah politik tingkat atas dan ada yang menjadi air untuk meredam sejenak kepanasan yang ditimbulkan. Bisa dibayangkan bukan betapa sempurnanya sosok pemimpin negeri ini jika mereka sukses berduet dalam panggung politik negeri nan megah itu?
Sayang beribu sayang, JK dengan segala program yang ia buat seperti pengalihan bahan bakar masak minyak tanah dengan gas dan program-program cemerlang yang lain yang mengandung resiko tinggi tapi bisa mencapai kesuksesan dengan keberhasilan program yang dicanangkan,mengajukan pengunduran diri sebagai pasangan SBY pada akhir masa jabatan. JK lebih memilih maju kembali kepanggung politik dengan pasangan duet yang lain,yang ia nilai lebih bekerja cepat dan efisien seperti dirinya.
Pada tahun 2009, pemilu pun diadakan kembali dengan peserta yang sudah dikenal nama-namanya seantero negeri. Disana,duduk pasangan SBY dengan Boediono yang keluar sebagai pemenang kompetisi politik lima tahunan itu. Dan saya cukup terkejut dengan terpilihnya Boediono sebagai pasangan SBY menggantikan JK. Didalam hati saya, saya cukup kecewa karena notabene bapak Boediono adalah seorang rektor(dosen) dalam artian seorang saintis, ditambah dengan bapak Boediono sebagai orang jawa asli yang mana sama dengan SBY. Jadi sekarang pemimpin negeri ini adalah dua orang pengerem sejati. Tidak ada langkah cepat mengambil keputusan. Tidak ada kebijakan pengubahan yang menjadi penggebrak berubahnya negeri. Meskipun tahu kebijakan tersebut beresiko tinggi dan mempunyai presentase yang gemilang jika kebijakan tersebut berhasil dicanangkan. Tidak ada yang berani mengambil resiko dari keduanya.  Dan semua hipotesis saya pada tahun 2009 silam terbukti, dengan tidak adanya program berarti sebagai penggebrak negeri yang berhasil dicanangkan.
Dari sini, kita dapat melihat betapa kultur memengaruhi kesuksesan pemimpin negeri dalam pengambilan keputusan yang tepat dan dibutuhkan negeri. Bukan berarti rasis, saya sebagai penulis pun bersuku jawa asli. Tapi kadangkala kita memerlukan orang yang tepat untuk duduk pada kursi yang tepat. Tidak mungkin kan kita memberikan kursi balita pada orang dewasa? Karena intensitas isi dan bobot yang sudah berbeda. Jadi tempatkanlah dan manfaatkanlah seluruh mutiara yang tersebar dalam negeri untuk menjadi pemimpin yang berdedikasi tinggi di bumi Indonesia,tidak hanya mendahulukan suku etnis yang terkenal karena berada paling dekat dengan wilayah pusat pemerintahan.

2.     Sistem pemerintahan Versus Pelaku sistem pemerintahan

Dalam kacamata saya, sistem pemerintahan Indonesia adalah sistem pemerintahan yang baik. Karena kita menggunakan sistem pemerintahan presidensial yang mana presiden mempunyai andil yang cukup kuat untuk negerinya, tetapi tetap dibatasi dan diawasi. Jadi presiden tidak bisa otoriter terhadap negaranya. Jika presiden tersebut melakukan kesalahan dan terbukti, maka presiden dapat dijatuhkan dari jabatan dan digantikan dengan wakil presiden. Sistem pemerintahan kita juga mencanangkan demokrasi bagi setiap warga negara, yang mana berarti tiap warga negara bebas menyampaikan pendapat dan aspirasi untuk terciptanya negeri yang lebih baik lagi. Tapi demokrasi ini tetap diawasi dan dibatasi, jadi bukanlah demokrasi bebas yang kebablasan.

Dari sistem yang saya jabarkan, bukankah Indonesia adalah negara dengan sistem pemerintahan yang baik bak surga dunia yang jika dijalankan dengan semestinya maka akan menumbuhkan negeri yang makmur dan teratur?
Namun, sistem yang baik ini harus diracuni dengan pelaku-pelaku sistem pemerintahan yang sama sekali tak mengelakkan dan mencanangkan sistem.
Pelaku-pelaku ini adalah pelaku lawas dari rezim orde lama, orde baru hingga reformasi. Mungkin pelakunya tak sama, tapi darah yang mengalir dalam tubuh pelaku-pelaku ini tetap darah yang sama pada masa orde lama dan orde baru. Yang mana pada masa itu praktik KKN terjadi dimana-mana. Disini, bukan sistem dan aparat keamanan ataupun idealisme sebagai mausia yang disalahkan. Tetapi pelaku lawas yang tak juga hengkang dari sistemlah yang mencarut-marutkan sistem pemerintahan negeri. Mereka merongrong kebijakan untuk mendapatkan keuntungan pribadi, menyabotase pemilu menjadi settingan belaka. Merekalah yang berada dibalik layar yang patut untuk diselesaikan. Bukan curut-curut mungil bak cameo yang terus-menerus didera pernyataan publik. Caleg ini korupsi, bupati ini melakukan praktik KKN. Jika yang ditangani hanya para politisi atas yang mencakup hedonis, saya rasa negara ini akan terus terisi para calon-calon koruptor dan pelaku praktik KKN.Bukanlah daun,batang dan bunga yang seharusnya dipangkas mati. Selama ada akar,maka prakitk-praktik keji tersebut akan tetap berjalan. Melewati beberapa dekade dan abad-abad kelam pemerintahan Indonesia.

Bahkan jika seseorang yang idealis diterjunkan bebas dan ikut berpartisipasi dalam sistem pemerintahan Indonesia sekarang, siapa yang menjamin bahwa seseorang yang idealis itu akan berpegang teguh pada prinsipnya? Jika sistem dan pelaku terus-menerus mendesak, siapa yang menjamin seorang yang idealis bakal tetap melawan arus? Siapa?.
Maka dari itu, kebanyakan kita lihat bahwa orang-orang yang peduli dan mencoba mengatasi permasalahan negeri ini pun ikut jatuh terseret kedalam hotel rodeo. Entah karena kasus korupsi, praktik nepotisme, praktik kolusi atau karena terkena fitnah imbas settingan sadis para petinggi keji negeri. Siapa yang tahu?

Jadi, untuk menyelesaikan masalah inipun tak ada aling-aling dan tak ada cara lain selain bertindak tegas memangkas semua petinggi negeri yang menjabat. Lalu digantikan oleh pemuda-pemudi bangsa yang produktif dan memiliki prinsip idealisme tinggi. Baru, segala praktik KKN akan terhapus dari bumi kita tercinta ini.



Itulah selintas fakta dan hal unik yang saya temukan pada negeri kita ini. Kerusakan bukanlah mereka yang sudah tak percaya lagi pada para pemimpin bangsa,bukan pula mereka yang lebih memilih untuk menutup kelima panca indera. Tapi adalah mereka yang lebih memilih menikmati dan menonton dari jauh situasi negeri dan bertindak seperti sudah tidak peduli lagi.


Inderalaya, 14 Februari 2014
Perumahan Mutiara Indah 2
*aeririana*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar